Heloo! Welcome to the Kingdom

MFnew

Terima kasih untuk teman-teman yang menyempatkan datang kemari.

Di sini, bentuk ekspresi saya melalui tulisan-tulisan

Kalian bisa panggil saya weny, just weny ^^ simple kan?

Mungkin ada beberapa yang di protect. Maaf sebelumnya, meski cerita itu bukan berunsur vulgar, tapi ada beberapa kata yang tidak layak untuk anak dibawah umur..

Kalian bisa inbox buat nadah Password kesini

Dan ini list-list Fanfiction atau tulisan saya yang lain

Site Map

Happy Reading!

Advertisements

Senja tanpa Sinar Jingga (The Last)

cd7c02c7e5206bba85ab15a5f4cd36c5

 

Benar-benar ada yang hilang sekarang. Senja sekarang tidak lagi berpanas-panasan di tengah terik. Sudah mampu membeli berkantong-kantong teh tubruk. Tak repot lagi menyampirkan tas penuh map cokelatnya. Tapi ada yang kurang sekarang. Sinar jingganya hilang, tenggelam entah dimana. Continue reading

Sepotong ikan di piring Nenek

image

Perutku terlalu lapar sampai aku tak lagi bisa bersuara. Nenek bilang akan pulang membawa makanan enak. Aku tidak yakin. Paling-paling, nenek akan membawa garam lagi. Lebih baik aku mengais sisa makanan orang lain dibanding makan nasi dan garam. Tapi kondisi nenek membuatku khawatir. Batuknya kambuh lagi. Kakinya terus saja pegal. Andai saja aku bisa sedikit lebih berguna untuknya.

Continue reading

Terlalu Mahalkah Waktumu?

image

Satu minggu lalu, aku pernah berkata ‘kan, kamu itu tersangka dalam tulisanku. Kamu bingung dan panik. Memang harus begitu. Kamu pasti berdosa setelah membaca ini. Kamu nanti akan mengerti mengapa begitu dan kenapa bisa begini. Jawabannya, aku hanya perlu sesuatu yang kusalahkan. Aku terlalu marah dan ingin membunuh. Membunuh karaktermu di sini. Tapi bagaimana bisa? Menyakitimu sama saja membuatku sendiri berdarah. Jadi, aku putuskan untuk membuatmu mengerti saja. Menginginkanmu tahu keinginan kecil dari gadismu ini.

Continue reading

Mendung di langit Senja

image

Warna sayurnya sudah pucat. Tehnya bahkan sudah dingin. Tapi aku masih di sini; menunggu Senja yang berjanji mampir lagi sehabis kerja. Senja bilang mau makan masakanku. Rona manjanya yang membuatku senang bukan main itu menyemangatiku. Ini kali pertama aku masak untuk Pria lain, selain Bapak. Ibu bilang, “kamu sudah siap jadi istri kalau sudah bisa bedain lengkuas sama jahe.” Lucu juga kata-kata Ibu.

Continue reading

Senja di Teras Nuri

image

Nuri tahu, ini bungkus terakhir teh tubruknya. Tak terlintas betapa sayangnya sisa satu sendok terakhir itu hanya untuk pria pengangguran yang selalu numpang duduk tiap sore. Dia bukan siapa-siapa. Tidak jelas bagaimana asal-usulnya, dan tidak tahu kenapa laki-laki itu senang mendatanginya tiap petang. Semua berawal dari tiga bulan lalu. Puncak tertinggi suhu panas di Palembang. Nuri ingat sekali seolah terjadi kemarin. Si pengangguran itu salah mengira rumahnya adalah rumah temannya. Harusnya dia langsung pergi. Harusnya dia tak usah menatap dengan tampang nelangsa pada secangkir teh di tangan Nuri. Dia kehausan. Wajahnya merah. Bibirnya mengelupas kekeringan. Uangnya pun cuma cukup ongkos balik. Jelas, Palembang sudah lama sekali tidak bertamukan hujan. Nuri kasihan bukan main. Jadi, dia beri saja orang itu es teh yang sangat nikmat baginya. Mukanya cerah lagi. Putih, seputih sapo tahu.
Continue reading

RUNE Soh-Veal-Oh [BAB VIII]

image

Prim menarik selimut, menggigil mengingat perkataan James tadi. Mukanya pucat setelah sampai di rumah. Mr. Connor pasti sudah pergi bekerja. Kalau tidak, dia sudah habis oleh Ayahnya itu. Prim tidak ingin mengingat bagaimana Ayahnya marah nanti. Ia ingin tidur sampai lupa ingatan.

Continue reading